Ilustrasi - Petugas melayani pengisian bahan bakar minyak (BBM) pada kendaraan di salah satu SPBU. ANTARA
ZONASIONAL, JAKARTA – Rencana penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi mendapat dukungan dari kalangan ekonom. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menilai penurunan harga BBM seharusnya segera dilakukan menyusul tren melemahnya harga minyak mentah dunia dalam beberapa pekan terakhir.
Menurut Faisal, harga BBM nonsubsidi pada prinsipnya mengikuti mekanisme pasar atau bersifat floating, sehingga perubahan harga minyak mentah global seharusnya tercermin pada harga jual di dalam negeri.
“Harga minyak mentah saat ini berada di kisaran 70 dolar AS per barel, bahkan minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) sempat turun hingga sekitar 68 dolar AS per barel. Dengan kondisi tersebut, harga BBM nonsubsidi sudah seharusnya mengalami penyesuaian turun,” ujarnya di Jakarta, Sabtu.
Ia menjelaskan bahwa kebijakan tersebut akan memberikan dampak positif bagi daya beli masyarakat, terutama kelompok kelas menengah yang belakangan menghadapi tekanan ekonomi akibat meningkatnya biaya hidup.
Faisal menilai pemerintah dan Pertamina tidak perlu menunda penyesuaian harga apabila tren harga minyak dunia tetap stabil di kisaran saat ini. Menurutnya, langkah tersebut akan membantu meringankan beban konsumen tanpa mengganggu mekanisme pasar yang menjadi dasar penetapan harga BBM nonsubsidi.


