Namun, jurnalisme yang baik juga harus mencoba memahami dunia yang kacau di sekitar kita. Ia menafsirkan, menganalisis, dan berusaha memberi makna pada semua ocehan yang terjadi’.
Ia menyimpulkan dengan tujuh rekomendasi rinci untuk menyelamatkan jurnalisme berkualitas, termasuk ‘konten harus diutamakan sebelum model bisnis’, ‘jurnalis harus berspesialisasi’, dan ‘berinvestasi pada kualitas’.
Pengertian dan karakeristik jurnalisme berkualitas hasil studi Vehkoo ini bisa disimak lengkap di laman Reuters Institute.
Ia mengutip juga karakteristik jurnalisme berkualitas dari John C. Merrill dalam buku The Elite Press. Great Newspapers of the World (1968). Merrill memberikan indikator kualitas pers sebagai berikut: pers yang bebas, jurnal yang berani, andal, independen, dan berorientasi pada pandangan berita bertanggung jawab kepada pembacanya.
Inilah lima kategori besar yang membentuk kualitas sebuah media:
1. Independen; stabilitas keuangan; integritas; kepedulian sosial; penulisan dan editing yang baik.
2. Pendapat yang kuat dan penekanan interpretatif; kesadaran dunia; non-sensasionalisme dalam artikel.
3. Penekanan pada politik, hubungan internasional, ekonomi, sosial kesejahteraan, usaha kebudayaan, pendidikan, dan ilmu
pengetahuan.
4. Berkepentingan dengan mendapatkan, mengembangkan dan mempertahankan organisasi yang besar, cerdas, staf yang terdidik, fasih berbicara, dan mahir secara teknis.
5. Tekad untuk mengabdi dan membantu mengembangkan generasi terpelajar, intelektual jumlah pembaca di dalam dan luar negeri; keinginan untuk menarik, dan memengaruhi, pemimpin opini di mana pun.


