Personel Lanud Supadio dan tim SAR Pontianak mengangkut kantong jenazah korban helikopter PK-CFX berjenis Airbus H-130 tipe H-130T2 yang menewaskan delapan orang, termasuk pilot. ANTARA.
Ia menambahkan, dugaan tersebut perlu ditelusuri lebih lanjut melalui pemeriksaan menyeluruh terhadap kondisi mesin, sistem mekanikal, serta riwayat perawatan sebelum penerbangan dilakukan.
Syarif juga menilai faktor manusia dalam kejadian ini relatif kecil, dengan kontribusi sekitar 10 persen, sementara aspek teknis dinilai lebih dominan.
Selain itu, ia menyoroti lambatnya respons setelah helikopter dinyatakan hilang kontak. Menurutnya, sistem koordinasi komunikasi penerbangan perlu dievaluasi agar penanganan darurat dapat dilakukan lebih cepat.
“Dalam standar penerbangan, kehilangan kontak selama 5–10 menit sudah menjadi peringatan serius. Respons cepat sangat dibutuhkan,” ujarnya.
Ia berharap investigasi resmi dari otoritas terkait dapat mengungkap penyebab pasti kecelakaan secara menyeluruh, termasuk dari sisi teknis, sistem komunikasi, hingga prosedur darurat, guna mencegah kejadian serupa terulang di masa depan.*
Sumber: Antara
(Red)

