Personel Lanud Supadio dan tim SAR Pontianak mengangkut kantong jenazah korban helikopter PK-CFX berjenis Airbus H-130 tipe H-130T2 yang menewaskan delapan orang, termasuk pilot. ANTARA.
ZONASIONAL, PONTIANAK – Pengamat transportasi udara Kalimantan Barat, Syarif Usmulyani Alqadrie, menduga faktor mekanis atau perawatan pesawat menjadi penyebab kecelakaan helikopter Airbus H130 dengan registrasi PK-CFX di wilayah hutan Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat.
Menurutnya, kemungkinan faktor cuaca dapat dikesampingkan karena kondisi saat kejadian dilaporkan cerah tanpa hujan maupun gangguan ekstrem.
“Dari lima faktor utama kecelakaan penerbangan, cuaca tidak menjadi penyebab dalam kejadian ini,” ujarnya di Pontianak.
Ia menjelaskan, dalam dunia penerbangan terdapat lima faktor utama penyebab kecelakaan, yakni faktor manusia, cuaca, gangguan atmosfer seperti windshear, kondisi landasan, serta faktor mekanis atau pemeliharaan pesawat.
Berdasarkan kronologi, helikopter tersebut lepas landas dari Melawi menuju Kubu Raya sekitar pukul 08.34 WIB dan melakukan komunikasi terakhir sebelum akhirnya hilang kontak pada pukul 10.40 WIB.
Dari analisis awal rekaman visual yang beredar, Syarif menduga terjadi gangguan pada sistem utama, khususnya rotor utama (main rotor) yang berperan penting dalam menjaga kestabilan helikopter.
“Posisi helikopter saat jatuh tidak langsung terjun bebas, melainkan seperti berupaya melakukan pendaratan. Ini mengindikasikan adanya masalah pada sistem mekanikal,” katanya.

