Ilustrasi - Seorang wanita sedang meminum air putih/Pexels/
ZONASIONAL, JAKARTA – Guru Besar Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ali Khomsan, menegaskan pentingnya memperhatikan konsumsi air putih, terutama bagi penderita gangguan ginjal. Menurutnya, meskipun air putih sangat bermanfaat bagi kesehatan, bagi pasien gangguan ginjal justru diperlukan pembatasan asupan cairan karena organ tersebut telah mengalami penurunan fungsi.
“Kalau sudah mengalami gangguan ginjal, maka minum air putih memang tidak boleh berlebihan karena ginjal sudah kehilangan atau mengalami kekurangan kemampuan untuk menyaring cairan,” ujar Ali saat dihubungi di Jakarta, Selasa (26/8).
Ali menjelaskan, jika pasien ginjal meminum air secara berlebihan, cairan tersebut tidak dapat disaring secara optimal oleh ginjal dan justru menumpuk dalam tubuh. Penumpukan cairan bisa menyebabkan pembengkakan pada anggota tubuh, sesak napas, hingga komplikasi serius. Oleh karena itu, pasien biasanya mendapatkan rekomendasi khusus dari dokter terkait jumlah cairan harian yang aman dikonsumsi.
Sementara itu, bagi orang sehat, kebutuhan air putih harian tidak berubah, yaitu sekitar dua liter atau setara dengan jumlah kalori makanan harian sebanyak 2.000 kalori. “Acuannya kurang lebih juga adalah bahwa setiap kalori makanan yang kita konsumsi harus diimbangi dengan 1 cc air. Jadi, rata-rata orang sehat memerlukan dua liter air putih per hari,” jelasnya.
Staf Teknis Komunikasi Transformasi Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), RA Adaninggar Primaria Nariswari, menambahkan bahwa kebiasaan jarang meminum air putih bisa menjadi faktor risiko utama kerusakan ginjal, bahkan di usia muda. “Biasanya pasien muda yang melakukan cuci darah karena tidak suka atau jarang minum air putih,” kata dokter yang akrab disapa Ningz tersebut.


