Dedi juga mengungkapkan, keberadaan media sosial menjadi cara untuk menghindari kesalahpahaman atau potongan-potongan narasi yang bisa menimbulkan fitnah. “Kalau saya tidak punya Youtube, mungkin saya sudah didemo berjilid-jilid di Gedung Sate. Karena banyak ucapan saya yang dipotong,” katanya disambut tepuk tangan para hadirin.
Lebih jauh, Dedi menilai bahwa kanal Youtube dan platform digital lainnya bisa menjadi rekam jejak digital yang autentik bagi aktivitas dan kinerja seorang pemimpin. “Youtube bercerita tentang apa adanya. Ketika dipotong, sumber aslinya ada,” tambahnya.
Pidato tersebut menjadi sorotan karena menunjukkan perubahan cara berpikir seorang kepala daerah di tengah perkembangan teknologi komunikasi saat ini. Namun, pernyataannya soal tidak perlunya kerja sama dengan media menuai beragam tanggapan, baik dari insan pers maupun masyarakat umum.
(Red/Sumber: Kompas)

